Tentang Mendengarkan


Salah satu temanku duduk termenung di bangku yang terletak di lorong kelas. Bahunya terisak-isak karena sedih yang dirasakannya setelah dinyatakan tidak lulus oleh dosen penguji. Aku yang sedang merasakan euforia kelulusan bersama teman-teman seketika terhenti ketika melihat temanku yang menyendiri tersebut. Aku tidak berani untuk menanyakan “kenapa” karena aku takut menyinggung hatinya. Teman-temanku yang lainnya pun kebingungan harus berbuat apa.

Tanpa berpikir panjang aku pun memberanikan diri untuk mendekati dia yang sedang menyendiri. Aku berusaha untuk menanyakan apa yang terjadi, dan untungnya dia menjawab walaupun terkesan agak ditutupi karena menahan malu akan fakta yang sebenarnya sudah terjadi.  Sambil dia mengontrol nafasnya, aku pun mulai bercerita tentang kegagalanku waktu saat ditolak audisi beasiswa bulutangkis yang aku alami waktu SMP.

Tujuanku bercerita sebenarnya hanya ingin berbagi tentang rasa sakit yang aku rasakan akibat dari suatu kegagalan. Namun, bukannya malah membaik, justru ia malah menatapku dengan rasa kesal yang tergambar di matanya. “Kamu ga ngerti ya apa yang aku rasain?.” Lalu dia pergi meninggalkanku sendiri.

Kejadian itu membuatku sadar betapa aku sering diperlakukan seperti itu. Ketika temanku bercerita tentang masalahnya, aku menimpalinya dengan cerita tentang masalahku juga. Pernah suatu ketika temanku ada yang bercerita tentang betapa sedihnya ia karena mendapat nilai yang sangat jelek pada UTS mata kuliah manajemen keuangan. Lalu aku menimpali cerita tentang bagaimana aku mendapatkan nilai bagus pada saat UAS walaupun nilai UTSku jelek.

Charles Derber, seorang sosiolog menggambarkan  bahwa perilaku tersebut dinamakan dengan “Conversational Narcissism”. Dalam kata lain, perilaku tersebut dilakukan ketika orang tersebut ingin mengambil alih pembicaraan dan mengubah fokus pembicaraan ke dirinya sendiri.

Dia menjelaskan, dalam hal memberikan respon kepada lawan bicara, seseorang terpecah ke dalam dua golongan. Golongan yang pertama disebut dengan a shift respons. Sedangkan golongan kedua bernama a support respons. Golongan yang pertama cenderung merubah fokus pembicaraan, sedangkan yang kedua cenderung mendukung pembicaraan.

Contoh nomor 1:

The Shift Response
Killua: “Duh hari ini aku cape banget deh.”
Alluka: “Sama ih bener, aku juga cape banget hari ini ga tau kenapa.”

The Support Response
Killua: Duh hari ini aku cape banget deh.
Alluka: Emang kamu abis ngapain aja hari ini? Cerita dong.

 Contoh nomor 2:

The Shift Response
Killua: “Eh bajuku udah jelek ya? Aku pengen beli baju deh rasanya ke tanah abang.”
Alluka: “Bajuku juga udah pudar nih warnanya. Kesel deh liatnya kalo lagi ngaca.”

The Support Response
Killua: “Eh bajuku udah jelek ya? Aku pengen beli baju deh rasanya ke tanah abang.”
Alluka: “Hmm lumayan pudar sih warnanya. Emang kamu kapan rencananya mau ke tanah abang?

Dari dua contoh di atas, kita bisa lihat bahwa the shift response cenderung mengubah pembicaraan menjadi berbicara tentang dirinya sendiri. Tetapi, berbeda dengan the support response. Dia berusaha untuk mencari cara agar lawan bicaranya terus berbicara tentang hal yang ingin dia ceritakan. Ini merupakan salah satu cara agar orang tahu kalau kita tertarik dan ingin mendengar lebih jauh.

Baru-baru ini, aku mempunyai sahabat dekat yang orang tuanya bercerai. Aku menemani dia hampir satu jam lebih di kamarnya. Dia bercerita panjang lebar sambil berurai air mata. Tetapi, aku berhati-hati kali ini. Aku memilih diam, mendengarkan, memberikan minuman kesukaannya, sesekali mengusap punggungnya. Lalu setelah ia merasa selesai mencurahkan isi hatinya. Dia berucap “makasih ya van, udah mau dengerin. Makasih juga nasihatnya. Kamu benar-benar sahabat yang baik”.

Faktanya adalah, aku tidak mengatakan kalimat-kalimat motivasi yang sering ditemukan di pinterest ataupun facebook. Yang aku katakan hanya seperti kalimat yang membuat dia terus bercerita, hingga beban yang ia bawa terasa lebih ringan. Mungkin, dia tidak butuh nasihat atau kata-kata mutiara yang syahdu. Dia cuma butuh didengarkan.

Comments

  1. Ini tulisan bakal nyetrum banyak kaula wanita dan emak emak.
    Tambahin quotes dong diakhir kak. :)

    ReplyDelete
  2. Selama ini seringnya kasus pertama yang banyak terjadi, terimakasih share nya

    ReplyDelete
  3. Menjadi pendengar yang baik memang pilihan terbaik

    ReplyDelete
  4. Keren. Buat saya, tulisannya mudah dimengerti dan membawa 'insight' atau pelajaran tanpa terlalu menggurui.
    Ada teori rujukan n contoh realistisnya.
    Semangat!

    ReplyDelete
  5. Poin tulisannya udh mantep ka, apalagi ditambah contoh jadi tambah ngerti~
    Mantaap kaa

    ReplyDelete
  6. Bener banget kak, kadang kita ga perlu nasihat dan motivasi, yang sebenernya kita butuhin hanya pengen di dengerin aja, biar kerasa plong udahnya

    ReplyDelete
  7. Masyaalloh bernas banget tulisannya

    ReplyDelete
  8. Masyaalloh bernas banget tulisannya

    ReplyDelete

Post a Comment