Peka, dong!
Untuk usia seumuran kita,
pasti sudah gak asing lagi kan sama yang namanya “peka”. Kata itu sering banget
kita pakai ketika ada orang yang gak sadar atau gak ngerti dengan apa yang kita
maksud. Contohnya seperti ketika temanmu meminjam pulpen saat di dalam kelas,
lalu ketika dia mengembalikan pulpennya, dia tidak bilang terima kasih.
Sontak kamu menyindirnya.
Dengan berucap :
“Sama-samaaaaaaaa!!”
Temanmu dengar, namun dia
gak sadar. Kebayang kan bagaimana kesalnya? Rasanya ingin teriak depan mukanya
sambil bilang :
“Gak tau terimakasih banget
siiiiiiih!”
Tapi, hal itu hanya terjadi
di otakmu saja. Realitanya, kamu hanya senyum-senyum kecut gak karuan sambil
menahan rasa kesal di dada.
Kalau kejadian tadi sudah
menyadarkan kita betapa menyebalkannya orang yang gak peka, bagaimana ya dengan
hidayah yang Allah selalu kasih kepada kita setiap harinya ya?
Ngomong-ngomong masalah
hidayah, memang gak ada yang tahu pasti kapan ia menghampiri hati kita, namun
sadar gak sih, sebenarnya hidayah itu sudah datang kepada kita, namun kitanya
lah yang kadang gak menyadari hidayah tersebut.
Dan hidayah, gak selalu
selamanya berada di dalam masjid. Bisa jadi, ia datang lewat video ceramah yang
kamu lihat di instagram. Bisa jadi ia datang dalam wujud tulisan seorang
penulis. Dan jangan heran, bisa jadi Allah sedang menuntunmu dalam membaca
kalimat ini semata-mata karena ingin kamu terketuk hatinya oleh hidayah.
Untuk saat ini, aku ingin
bercerita. Bolehkan aku bercerita lagi?
Jadi begini ceritanya……
Pernahkah kamu disapa
seseorang yang mencintaimu, setelah sekian lama kamu menjauh?
Pernahkah kamu dipeluk oleh seseorang
yang sudah kamu jahati bertahun-tahun?
Aku pernah.
Waktu itu adzan maghrib
berkumandang, sayup-sayup terdengar seantero bekasi, lalu seperti biasa aku
bergegas mengambil wudhu dan langsung berjalan ke masjid. Sepanjang perjalanan,
aku berpikir dosa dosa yg sudah aku lakuin selama ini. Entah berapa banyak
batasan yang aku sudah terobos seenak jidatku sendiri. Dan tiba-tiba ada suara
dalam hati yg berbisik, "Allah marah gak ya sama aku?"
Sesampainya di masjid,
iqamah sudah dikumandangkan, aku berbaris, bersiap untuk bersujud kepada Dia.
Lalu, di rakaat pertama, setelah Al Fatihah, sang imam membaca surat Ad Dhuha.
Sebenarnya aku sudah sering
mendengar surat ini, tapi kali ini yang paling pas dengan keadaanku. Surat ini
seakan-akan menjawab pertanyaanku tadi seraya aku berjalan ke mesjid.
"Demi waktu dhuha, Dan
demi malam apabila sunyi, Allah tidak meninggalkanmu, Dan tidak pula
membencimu" (Q.s Ad Dhuha 1-3). Tak terasa mataku basah tak karuan. Aku
berusaha untuk mengusap air mataku, agar nanti setelah salam gak ada yang sadar
kalau aku habis menangis.
Sempat aku gak percaya,
ketika salah satu ustadz bercerita ada seseorang yang ditegur lewat bacaan imam
waktu sholat. Ketika itu dia menangis. Karena merasa beruntung ditegur langsung
oleh Allah
Sekarang, aku mengalaminya
sendiri.
Ya Rabb, Engkau adalah
Engkau. Dan aku tetaplah aku, yang sering durhaka padamu. Engkau tau Ya Rabb,
aku sedang berjuang untuk mendekat padamu. Bantu aku Ya Rabb. Bantu aku agar
tetap istiqamah di jalanmu..
Comments
Post a Comment